Sabtu, 18 Januari 2014

Sabtu malam...

Lexi masih menangis di kamar. Ruangan 3 x 4 meter itu terasa dingin, sampai - sampai ia harus menekukkan kakinya berusaha memberikan kehangatan pada tubuh mungilnya. Sudah hampir 3 bulan Lexi menghabiskan malam minggunya merenung, meratapi nasib,  dan mendengar lagu - lagu Lady Antebellum. Ia mengetuk - ngetukkan jari telunjuknya di meja rias di tengah - tengah kesendiriannya. Oh, satu hal lagi yang ia lakukan, berbicara dengan teman barunya. Namanya Lexa, pantulan dirinya sendiri di cermin. Setiap pukul 9 ketika Sabtu malam, Lexi seperti mempunyai rutinitas baru. Mematikan lampu kamarnya, menyalakan lampu remang - remang dari meja riasnya, duduk dan memandangi cermin riasnya sampai ia menemukan kembarannya hadir disana. Lagu Hurt - Christina Aquilera yang berulang - ulang diputar Lexi menghiasi pembicaraan dua wanita bertolak belakang ini. There's nothing I wouldn't do to hear your voice again..

    " Apa kabarmu?" tanyanya yang baru muncul.
    Lexi tersenyum. " Rapuh." Jawabnya.
    " Don't hurt yourself anymore. Aku kesakitan. "
    " Aku menikmatinya.." Lexi tersenyum miris.
    " Sudah sampai mana?" Jiwa keingintahuan Lexa memuncak. Lexa mendapati kantung mata Lexi yang tak bisa dibendung. Terlihat jelas dan tak dapat disembunyikan.
    " Kemarin malam dia menghubungiku lagi. Menanyakan kabarku, mengkhawatirkan keadaanku."
    " HAA! Ass-hole!"
    " Dia mencoba membangun percakapan denganku."
    " Such an idiot!" makinya. 
    " Dan dia menggodaku.."
    Lexa melongo mendengarnya. Rasa tak percaya dan menggelikan terpaut jelas di raut wajahnya. " Menggodamu, memberi harapan padamu dan melemparmu ke dasar bumi yang paling dalam. Bad Boy."
     Lexi menggeleng. " Bukan begitu. Kita berbicara lumayan lama kemarin. Aku mengenalnya sudah lama dan aku tau kalau kata - katanya  kemarin sangat tulus padaku."
    " Oh baby.. puhleaseee..." Lexa mencibir terus dengan kebencian. 
    " Dia masih seperti dulu. Masih lucu, baik dan perhatian walau aku tidak banyak bertanya saat itu, tapi dia menanggapi dan sepertinya mengharapkan pembicaraan kita berlanjut."
    " Lalu ??"
    Lexi tersenyum girang. Senyum pertama yang terpantul di cermin setelah berbulan - bulan hanya ada tangisan di wajahnya. " No words can explain how happy I am. Semalaman aku gak bisa tidur. Aku terus memandang langit - langit kamar sambil membayangkan aku dan dia. Just two of us."
    " You dream too much !!"
    Lexi melotot seakan - akan tidak bisa menerima peryataan bayangannya di depan. " Kamu diam! Aku bahagia sekarang. Kamu bisa liat dari wajahku hari ini. Akhirnya dia menghubungiku dan memulai pembicaraan seperti dulu. You feel it too.. "
    Lexa tersenyum menantang. Hampir saja Lexa melemparkan jari tengahnya ke hadapan Lexi tapi ditahannya. " Oke, aku tau kamu sedang berbunga - bunga sekarang. Kamu may tau apa yang aku rasakan? Aku hanya mengingatkan betapa jahatnya dia dulu.."
    Lexi diam. tiba - tiba ia serius memperhatikan. Tangannya mengepal dan dahinya mengerut mengingat semua memori kelabu itu. Terlalu banyak sampai ia tidak dapat menahannya. 
    " Dia merenggut kehidupanmu dengan meninggalkanmu untuk orang lain yang tidak mencintainya."
    " Mereka sudah tidak berhubungan.." Balas Lexi membela diri.
    " He didn't trust you. Dialah yang menuduh kalau kamulah pembohong dan yang merancang semuanya. Kamu tentunya masih ingat kan waktu dia terang - terangan mengancammu untuk membersihkan namanya dan menantangmu untuk melihat siapa yang akan menang di masalah kemarin?"
    Lexi diam selama 5 detik. " Aku tidak mempermasalahkannya lagi."
    " Oh geez!! Jangan lupakan yang satu ini, dia menjalin suatu hubungan asmara dengan you-know-who dan sayangnya you-know-who ini gak punya perasaan apa - apa ke dia tetapi dia tetap membelanya mati - matian di depanmu, sayangku. Damn, aku bahkan tidak sanggup menyebut nama wanita itu."
    Lexi menengadahkan wajahnya ke atas menahan air matanya di pelupuk mata. " Lupakan semuanya.." suaranya miris.
    " Bahkan dia tidak pernah memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kamu. Sedangkan untuk perempuan yang aku tidak bisa sebutkan itu, dia berulang kali memberikan kesempatan tanpa harus mengemis, memohon seperti yang sudah kamu lakukan." Nada suara Lexa meninggi.
    " Aku sudah tidak ingat hal itu lagi..." satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Lexi.
    " BAHKAN dia sudah memberikan barang kesayangannya pada wanita itu, menghabiskan malam bersamanya, memojokkan kamu yang dianggapnya bersalah, bertemu dengan orangtuanya, mempercayai fitnahannya tentang dirimu, mengungkapkan rasa sayang pada wanita itu di depan matamu, dan yang paling parah lagi dia sudah merajut masa depan bersamanya. Semua hal yang kamu impikan bersamanya dulu, sangat mudah wanita itu dapatkan."
    " SHUT UP BITCH!!" derasnya air mata Lexi sudah tidak bisa ia bendung lagi. Terukir jelas di kepalanya kali ini bagaimana ia menghadapi masa - masa itu. Semuanya terputar ulang di ingatannya seperti menonton film drama yang tidak ada habisnya. 
    " You love him too much dear. Let him go, find your own happiness, myself."
    " Aku sudah memaafkannya!!"
    " Jangan egois. Aku juga merasakannya. Tubuhmu mungkin merasakan keindahan ketika bersamanya. Tapi aku, jiwamu menderita karenanya. Bisakah kamu merasakan apa yang aku rasakan? Aku sudah cukup lama menanggung tangisan hatimu. Berpura - pura tertawa diatas kesedihanku. Berlagak sanggup padahal aku tidak mampu. "
    Lexi tersenyum. Ia menghapus air mata dari pipinya. " Aku percaya, ketulusanku tidak akan sia - sia. Jika aku sudah menutup kenangan itu, mengapa kamu membukanya lagi? Aku sudah lelah membalut luka itu untuk waktu yang lama. Sekarang aku ingin merasakan kebahagiaan itu. Nikmatilah kebahagiaan itu. Aku memilih untuk setia. Sekarang aku tidak butuh kamu lagi. Aku bisa menghadapinya sendiri."
    " Tapi..."
    " ENYAH!!!!" Lexi melempar sebuah gunting ke cermin menghancurkan jiwanya berkeping - keping. Tangis melebur menjadi satu membentuk kehancuran. Lexi memegang dadanya. Sesak ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ia kesulitan mengatur nafasnya. Jantungnya memicu cepat seakan ingin melonjak keluar. Tangan kanannya menggepal membentuk urat - urat di nadinya.
    1 new message.
    Can we meet?
     


After all this time...
I will always say yes.



Based on true story
R to M