Jumat, 21 Agustus 2015

untitled

Lisya menatap layar handphonenya. Melihat apakah ada panggilan masuk dari 'dia'. Apakah ada pesan di whatsapp, bbm atau line dari dia? Tapi tidak ada. sudah 2 hari ini Mr. Ignorant tidak menyapanya di media sosial atau meneleponnya seperti yang sudah biasa ia lakukan di jam - jam tidur malamnya. 

" Sudah biasa...." katanya membatin. 

Mencintai.. uhm ralat, menyukai seseorang yang sama sekali tidak ada keinginan untuk membalas perasaan itu ternyata tidak semudah yang Lisya bayangkan. Perasaan, waktu, bahkan kewarasan pun sudah dipertaruhkan. Lisya tidak bisa mengelak ia merindukan suara itu. Suara yang menghantarkannya tidur ketika hampir subuh. Tawa yang menyapu daun telinganya ketika lelucon jayus dia lontarkan. 
Lisya mengambil handphonenya dan mengetik pesan singkat yang selalu menjadi pesan pembuka dalam setiap obrolannya. 

" Lagi dimana?" 

3 jam kemudian Lisya membuka handphone-nya lagi. Tidak ada balasan. 

Sudah cukup, pikirnya.

Ttidak ada harapan lagi. Tidak ada yang pantas ditunggu lagi. Mungkin Lisya hanya ada dalam waktu waktu tertentu dalam hidupnya. (baca : bosan, insomnia dan sendirian). 
Telepon Lisya berdering dan dengan sigap diangkat olehnya. Dia kenal betul dengan foto penelepon yang terpampang jelas di layar ponselnya. Senyum manis tersungging di bibirnya. 

" Hei." sahut Lisya semangat. Tak bisa dipungkiri, sejahat apapun pria itu, Lisya tetap menyambutnya dengan baik.
" Ada apa?" balas Mr Ignorant slash arrogant. 
" Terima pesanku?"
" Ya. aku baru pulang."
" Darimana?" tanya Lisya penasaran.
" Dari rumah mantanku. Actually, hubungan kami mulai membaik." jawabnya santai.
what the hell. " Ooh. really? " suara Lisya tercekat. tangan kanannya gemetar. 
" Hmm sya, we need to talk." Mr. Ignorant berdeham. 

Seperti sudah tau apa yang ingin Mr Ignorant utarakan, Lisya mengubah posisi duduknya. Ia mengambil bantalnya dan membekap mulutnya. 

" Kemarin malam kami balikan." ucap mr. Ignorant dengan lugasnya tanpa ada dosa barang sedikitpun. 

Lisya menekan bantalnya lebih kuat ke mulutnya. Ia mulai meringis pedih.  Tak ada suara sama sekali dari bibir tipisnya.

 " Aku butuh dia." katanya lagi. 

Tangan kiri Lisya mencengkram kuat pinggiran kasurnya. kali ini ia membuka perlahan mulutnya lalu mengatur nafasnya yang tersengal - sengal. 

" Oke."
" Oke apa?" 
" Oke kalau begitu. Aku senang kalau kamu bahagia sm dia." dusta Lisya. Ini dusta terbesar yang ia ucapkan dalam hidupnya. 
" Sorry "
Lisya tersenyum sinis. " You don't really mean it, Ky." 
" Hmm.." 
" Lupakan semuanya, ky. Aku bisa terima kalau itu yang terbaik. Ya, she belongs to you. Dari ceritamu tentang dia, aku tau dia seperti apa. Dari ceritamu juga aku menyimpulkan kalau orang jahat memang sepadan dengan orang yang sama. Kamu bisa menerima orang jahat di hidupmu, bahkan menjadikan orang itu sebagai prioritas utamamu. Sekarang aku sadar, aku tidak bisa menerima orang jahat di hidupku." Ungkap Lisya panjang lebar. kuku - kuku jarinya mencakar kulit tangannya seolah olah menyeimbangi rasa sakit di hatinya 
" Kamu terlalu baik buat aku, sya."
Cliche. " Yes, I am. Orang baik sepertiku gak pantas dengan orang jahat sepertimu. Now I really mean it." Jawab Lisya lalu memutus sambungan teleponnya. 

Tangisnya meluber sejadi - jadinya. Ia merasa lega dengan ucapannya barusan. Setidaknya itu bisa mewakilkan perasaannya saat ini. 
Untuk apa mengharapkan orang mati untuk hidup kembali di duniaku? Bukankah orang mati akan bersanding dengan orang yang sudah mati juga? Sedangkan hati ini masih hidup dan masih menunggu teman hidupnya. Semua yang ia lakukan selama ini seperti sia - sia. Ya, fiktif belaka, sandiwara, peran, dan ilusi semata. Mr ignorant itu hanya fiktif baginya. Dia tidak benar benar ada, bahkan tidak akan pernah ada.




based on true story
R to S

mood list and random saying

I hate being lied to I hate being ignored & I hate being used. 

I’m not a backup plan, and definitely not a second choice

Don’t talk to me because you’re “Bored”. I’m not here to entertain you. And don’t come to me only when you need a favor. I don’t like being used.

He’s playing meee because I AM  the only one who doesn’t know.

I'm HUNGRY-ANGRY


still zzzleepy. it's 6.57 AM

I miss you a tons......... Mr. Ignorant. PHEEWWW

I want to sleep until I feel better


Thank you, God, for this good life and forgive me if I do not love it enough.

New phone number. ~~~~~~~~~

I've been lucky enough - well, maybe unlucky enough

A promise is a promise. A lie is a lie

winners never cheat. aha

dear stomach, YOU'RE BORED NOT HUNGRYYYY

I'm fine

My secret is simple. I pray

Back to sleep. it's YEAY WEEKEND

Rabu, 09 April 2014

What would you do if you were a boy for a day?

hai April!!
seperti biasa, gue dan Ela ( blogger partner ) make a list lagi. judulnya, what would you do if you were a boy for a day? hmmm... sebenernya sih gue lebih milih jadi perempuan, karena menjadi perempuan itu asik banget! bebas berekspresi dari segi pakaian, make up, emosional. kalau cowok? kayaknya lempeng - lempeng aja. :D but, I have to answer this...

what would I do if I were a boy for a day....

I will look in the mirror and think... HOW BIG!!! eeeee... my body. I will check my muscles :) biasanya cowok punya otot kan ya, and then I will take my shirt off dan ngeliat ada gak kotak - kotak di perut gue hehehe. dan pastinya.... SELFIEEEEE!!!

Going to the bathroom terus mau mandi kilat ala - ala cowok yang biasanya mandi cuma 5 menit doang. kalau cewek kan bisa 15 - 25 menit. terus gak mau sisiran dan keluar rumah dengan rambut basah. I am a cool guy, teehee

treat a girl like you'd want to be treated.. gue bakalan mencari unfortunate girl dan memperlakukan mereka spesial as a woman. dude, every girl wants to be treated like a queen! apa susahnya sih?!!

I wanna try to pee... behing a tree ~~~~ ( nggak ada penjelasan soal yang satu ini )

take my shirt off in public!! shirtless itu gak berarti buat cewek, dan ketika gue jadi cowok, I wanna do that and say how sexy I am.... ;)

punch a guy!!! gue pengen sekali sekali nonjok orang. kalau cewek kan gak mungkin nonjok cowok, nah kalau jadi cowok kan boleh hehehehe

be a gentleman for a day. pengen ngelakuin apa yang seharusnya dan sepantasnya laki - laki lakukan and maybe guide them to be a gentleman..

wear a suit. I don't know why, gue merasa cowok pakai jas hitam itu nilai plusnya nambah 100 %!! dan gue pengen make jas dan ngajak seorang cewek dinner. ehehehehehehe ;)

Sabtu, 18 Januari 2014

Sabtu malam...

Lexi masih menangis di kamar. Ruangan 3 x 4 meter itu terasa dingin, sampai - sampai ia harus menekukkan kakinya berusaha memberikan kehangatan pada tubuh mungilnya. Sudah hampir 3 bulan Lexi menghabiskan malam minggunya merenung, meratapi nasib,  dan mendengar lagu - lagu Lady Antebellum. Ia mengetuk - ngetukkan jari telunjuknya di meja rias di tengah - tengah kesendiriannya. Oh, satu hal lagi yang ia lakukan, berbicara dengan teman barunya. Namanya Lexa, pantulan dirinya sendiri di cermin. Setiap pukul 9 ketika Sabtu malam, Lexi seperti mempunyai rutinitas baru. Mematikan lampu kamarnya, menyalakan lampu remang - remang dari meja riasnya, duduk dan memandangi cermin riasnya sampai ia menemukan kembarannya hadir disana. Lagu Hurt - Christina Aquilera yang berulang - ulang diputar Lexi menghiasi pembicaraan dua wanita bertolak belakang ini. There's nothing I wouldn't do to hear your voice again..

    " Apa kabarmu?" tanyanya yang baru muncul.
    Lexi tersenyum. " Rapuh." Jawabnya.
    " Don't hurt yourself anymore. Aku kesakitan. "
    " Aku menikmatinya.." Lexi tersenyum miris.
    " Sudah sampai mana?" Jiwa keingintahuan Lexa memuncak. Lexa mendapati kantung mata Lexi yang tak bisa dibendung. Terlihat jelas dan tak dapat disembunyikan.
    " Kemarin malam dia menghubungiku lagi. Menanyakan kabarku, mengkhawatirkan keadaanku."
    " HAA! Ass-hole!"
    " Dia mencoba membangun percakapan denganku."
    " Such an idiot!" makinya. 
    " Dan dia menggodaku.."
    Lexa melongo mendengarnya. Rasa tak percaya dan menggelikan terpaut jelas di raut wajahnya. " Menggodamu, memberi harapan padamu dan melemparmu ke dasar bumi yang paling dalam. Bad Boy."
     Lexi menggeleng. " Bukan begitu. Kita berbicara lumayan lama kemarin. Aku mengenalnya sudah lama dan aku tau kalau kata - katanya  kemarin sangat tulus padaku."
    " Oh baby.. puhleaseee..." Lexa mencibir terus dengan kebencian. 
    " Dia masih seperti dulu. Masih lucu, baik dan perhatian walau aku tidak banyak bertanya saat itu, tapi dia menanggapi dan sepertinya mengharapkan pembicaraan kita berlanjut."
    " Lalu ??"
    Lexi tersenyum girang. Senyum pertama yang terpantul di cermin setelah berbulan - bulan hanya ada tangisan di wajahnya. " No words can explain how happy I am. Semalaman aku gak bisa tidur. Aku terus memandang langit - langit kamar sambil membayangkan aku dan dia. Just two of us."
    " You dream too much !!"
    Lexi melotot seakan - akan tidak bisa menerima peryataan bayangannya di depan. " Kamu diam! Aku bahagia sekarang. Kamu bisa liat dari wajahku hari ini. Akhirnya dia menghubungiku dan memulai pembicaraan seperti dulu. You feel it too.. "
    Lexa tersenyum menantang. Hampir saja Lexa melemparkan jari tengahnya ke hadapan Lexi tapi ditahannya. " Oke, aku tau kamu sedang berbunga - bunga sekarang. Kamu may tau apa yang aku rasakan? Aku hanya mengingatkan betapa jahatnya dia dulu.."
    Lexi diam. tiba - tiba ia serius memperhatikan. Tangannya mengepal dan dahinya mengerut mengingat semua memori kelabu itu. Terlalu banyak sampai ia tidak dapat menahannya. 
    " Dia merenggut kehidupanmu dengan meninggalkanmu untuk orang lain yang tidak mencintainya."
    " Mereka sudah tidak berhubungan.." Balas Lexi membela diri.
    " He didn't trust you. Dialah yang menuduh kalau kamulah pembohong dan yang merancang semuanya. Kamu tentunya masih ingat kan waktu dia terang - terangan mengancammu untuk membersihkan namanya dan menantangmu untuk melihat siapa yang akan menang di masalah kemarin?"
    Lexi diam selama 5 detik. " Aku tidak mempermasalahkannya lagi."
    " Oh geez!! Jangan lupakan yang satu ini, dia menjalin suatu hubungan asmara dengan you-know-who dan sayangnya you-know-who ini gak punya perasaan apa - apa ke dia tetapi dia tetap membelanya mati - matian di depanmu, sayangku. Damn, aku bahkan tidak sanggup menyebut nama wanita itu."
    Lexi menengadahkan wajahnya ke atas menahan air matanya di pelupuk mata. " Lupakan semuanya.." suaranya miris.
    " Bahkan dia tidak pernah memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kamu. Sedangkan untuk perempuan yang aku tidak bisa sebutkan itu, dia berulang kali memberikan kesempatan tanpa harus mengemis, memohon seperti yang sudah kamu lakukan." Nada suara Lexa meninggi.
    " Aku sudah tidak ingat hal itu lagi..." satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Lexi.
    " BAHKAN dia sudah memberikan barang kesayangannya pada wanita itu, menghabiskan malam bersamanya, memojokkan kamu yang dianggapnya bersalah, bertemu dengan orangtuanya, mempercayai fitnahannya tentang dirimu, mengungkapkan rasa sayang pada wanita itu di depan matamu, dan yang paling parah lagi dia sudah merajut masa depan bersamanya. Semua hal yang kamu impikan bersamanya dulu, sangat mudah wanita itu dapatkan."
    " SHUT UP BITCH!!" derasnya air mata Lexi sudah tidak bisa ia bendung lagi. Terukir jelas di kepalanya kali ini bagaimana ia menghadapi masa - masa itu. Semuanya terputar ulang di ingatannya seperti menonton film drama yang tidak ada habisnya. 
    " You love him too much dear. Let him go, find your own happiness, myself."
    " Aku sudah memaafkannya!!"
    " Jangan egois. Aku juga merasakannya. Tubuhmu mungkin merasakan keindahan ketika bersamanya. Tapi aku, jiwamu menderita karenanya. Bisakah kamu merasakan apa yang aku rasakan? Aku sudah cukup lama menanggung tangisan hatimu. Berpura - pura tertawa diatas kesedihanku. Berlagak sanggup padahal aku tidak mampu. "
    Lexi tersenyum. Ia menghapus air mata dari pipinya. " Aku percaya, ketulusanku tidak akan sia - sia. Jika aku sudah menutup kenangan itu, mengapa kamu membukanya lagi? Aku sudah lelah membalut luka itu untuk waktu yang lama. Sekarang aku ingin merasakan kebahagiaan itu. Nikmatilah kebahagiaan itu. Aku memilih untuk setia. Sekarang aku tidak butuh kamu lagi. Aku bisa menghadapinya sendiri."
    " Tapi..."
    " ENYAH!!!!" Lexi melempar sebuah gunting ke cermin menghancurkan jiwanya berkeping - keping. Tangis melebur menjadi satu membentuk kehancuran. Lexi memegang dadanya. Sesak ia rasakan di sekujur tubuhnya. Ia kesulitan mengatur nafasnya. Jantungnya memicu cepat seakan ingin melonjak keluar. Tangan kanannya menggepal membentuk urat - urat di nadinya.
    1 new message.
    Can we meet?
     


After all this time...
I will always say yes.



Based on true story
R to M