Lisya menatap layar handphonenya. Melihat apakah ada panggilan masuk dari 'dia'. Apakah ada pesan di whatsapp, bbm atau line dari dia? Tapi tidak ada. sudah 2 hari ini Mr. Ignorant tidak menyapanya di media sosial atau meneleponnya seperti yang sudah biasa ia lakukan di jam - jam tidur malamnya.
" Sudah biasa...." katanya membatin.
Mencintai.. uhm ralat, menyukai seseorang yang sama sekali tidak ada keinginan untuk membalas perasaan itu ternyata tidak semudah yang Lisya bayangkan. Perasaan, waktu, bahkan kewarasan pun sudah dipertaruhkan. Lisya tidak bisa mengelak ia merindukan suara itu. Suara yang menghantarkannya tidur ketika hampir subuh. Tawa yang menyapu daun telinganya ketika lelucon jayus dia lontarkan.
Lisya mengambil handphonenya dan mengetik pesan singkat yang selalu menjadi pesan pembuka dalam setiap obrolannya.
" Lagi dimana?"
3 jam kemudian Lisya membuka handphone-nya lagi. Tidak ada balasan.
Sudah cukup, pikirnya.
Ttidak ada harapan lagi. Tidak ada yang pantas ditunggu lagi. Mungkin Lisya hanya ada dalam waktu waktu tertentu dalam hidupnya. (baca : bosan, insomnia dan sendirian).
Telepon Lisya berdering dan dengan sigap diangkat olehnya. Dia kenal betul dengan foto penelepon yang terpampang jelas di layar ponselnya. Senyum manis tersungging di bibirnya.
" Hei." sahut Lisya semangat. Tak bisa dipungkiri, sejahat apapun pria itu, Lisya tetap menyambutnya dengan baik.
" Ada apa?" balas Mr Ignorant slash arrogant.
" Terima pesanku?"
" Ya. aku baru pulang."
" Darimana?" tanya Lisya penasaran.
" Dari rumah mantanku. Actually, hubungan kami mulai membaik." jawabnya santai.
what the hell. " Ooh. really? " suara Lisya tercekat. tangan kanannya gemetar.
" Hmm sya, we need to talk." Mr. Ignorant berdeham.
Seperti sudah tau apa yang ingin Mr Ignorant utarakan, Lisya mengubah posisi duduknya. Ia mengambil bantalnya dan membekap mulutnya.
" Kemarin malam kami balikan." ucap mr. Ignorant dengan lugasnya tanpa ada dosa barang sedikitpun.
Lisya menekan bantalnya lebih kuat ke mulutnya. Ia mulai meringis pedih. Tak ada suara sama sekali dari bibir tipisnya.
" Aku butuh dia." katanya lagi.
Tangan kiri Lisya mencengkram kuat pinggiran kasurnya. kali ini ia membuka perlahan mulutnya lalu mengatur nafasnya yang tersengal - sengal.
" Oke."
" Oke apa?"
" Oke kalau begitu. Aku senang kalau kamu bahagia sm dia." dusta Lisya. Ini dusta terbesar yang ia ucapkan dalam hidupnya.
" Sorry "
Lisya tersenyum sinis. " You don't really mean it, Ky."
" Hmm.."
" Lupakan semuanya, ky. Aku bisa terima kalau itu yang terbaik. Ya, she belongs to you. Dari ceritamu tentang dia, aku tau dia seperti apa. Dari ceritamu juga aku menyimpulkan kalau orang jahat memang sepadan dengan orang yang sama. Kamu bisa menerima orang jahat di hidupmu, bahkan menjadikan orang itu sebagai prioritas utamamu. Sekarang aku sadar, aku tidak bisa menerima orang jahat di hidupku." Ungkap Lisya panjang lebar. kuku - kuku jarinya mencakar kulit tangannya seolah olah menyeimbangi rasa sakit di hatinya
" Kamu terlalu baik buat aku, sya."
Cliche. " Yes, I am. Orang baik sepertiku gak pantas dengan orang jahat sepertimu. Now I really mean it." Jawab Lisya lalu memutus sambungan teleponnya.
Tangisnya meluber sejadi - jadinya. Ia merasa lega dengan ucapannya barusan. Setidaknya itu bisa mewakilkan perasaannya saat ini.
Untuk apa mengharapkan orang mati untuk hidup kembali di duniaku? Bukankah orang mati akan bersanding dengan orang yang sudah mati juga? Sedangkan hati ini masih hidup dan masih menunggu teman hidupnya. Semua yang ia lakukan selama ini seperti sia - sia. Ya, fiktif belaka, sandiwara, peran, dan ilusi semata. Mr ignorant itu hanya fiktif baginya. Dia tidak benar benar ada, bahkan tidak akan pernah ada.
based on true story
R to S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar